Wabah Paranoid yang Lebih Berbahaya dari Covid-19
Siapa yang tidak cemas dengan datangnya virus bernama Covid-19 saat ini? Perasaan cemas itu wajar dirasakan sebagian besar orang. Tetapi reaksi daripada kecemasan itulah yang terkadang menjadi tidak wajar. Terutama bagi orang-orang yang memang sudah memiliki gangguan kecemasan / Obsesif Compulsive Disorder (OCD), mereka mungkin akan semakin tertekan pada masa-masa seperti ini dan bisa bertindak liar membahayakan dirinya dendiri atau orang lain tanpa mereka sadari.
Jangankan penderita OCD, temanku yang notabene masih normal alias tidak memiliki riwayat gangguan mental, tiba-tiba mengatakan ingin mengakhiri hidupnya hanya karena tidak tahan dengan terpaan kebosanan yang kian tak berujung ini, akibat dari pandemi Covid-19 – Social Distancing. Irasional bukan? Yahh.. bagi seorang pemuja kebebasan seperti dirinya, tentu hal itu sangatlah berpotensi menekan jiwanya.
Menyedihkan. Pulang kampung saja tidak berani. Takut membawa yang tidak-tidak pada keluarganya. Semua kesibukannya terhenti. Tertahan di kamar kos dengan tugas-tugas yang tidak disenangi. Menghibur diri dengan menonton film dari bangun tidur sampai tidur lagi. Membosankaaaann.
Di suatu waktu, ketika kami makan siang bersama di kos, dia kembali curhat mengenai depresinya lagi, dan aku terlarut dalam depresinya. Tetapi aku hanya diam, menjaga perkataanku agar tak semakin membuatnya ingin bunuh diri. Tanpa sadar, dia malah membuka obrolan seputar endemi bunuh diri di kawasan kota kelahiranku. Tersebar rumor bahwa bunuh diri itu menular. Bahwa kemana arah wajah korban bunuh diri itu menghadap, di situlah korban bunuh diri selanjutnya berjatuhan. Ngeri juga sih. Tapi ya memang seperti itulah adanya. Menurutmu ini rumor atau sugesti?
Beberapa waktu yang lain, temanku yang lain merekomendasikan sebuah film berjudul After.Life, sebuah film horror-thriller psikologis Amerika tahun 2009 yang disutradarai oleh Agnieszka Wojtowicz-Vosloo (Tolong jangan di-skip bacanya ya, aku udah capek-capek ngetiknya).
Dalam film itu terdapat adegan percakapan antara tokoh Eliot dan Anna tentang suatu pemaknaan kematian yang berhasil membuatku merenung tentang makna kehidupan. Dan juga kekeh ingin menulis tulisan ini sebagai mendamping untuk menghadapi teman-temanku yang sedang depresi. Bahwa hidup dan mati itu hanya perkara harapan. Harapan yang kuat akan membuatmu bertahan hidup lebih kuat. Dan aku merasa senang, ternyata aku masih punya harapan yang harus dicapai. Wouww.
Singkat cerita begitulah, lebih baik menebar kebaikan kan daripada menjadi penyebab peristiwa naas yang beruntun?
Pentingnya mengendalikan kecemasan
Situasi saat ini hampir mirip dengan kisah di komik-komik Zombie yang pernah kubaca, baik dari segi penyebaran virus Zombie hingga tindak irasional orang-orang di dalamnya. Dari berbagai judul dan author yang berbeda, dapat kutarik benang merah yang sama bahwa semua tragedi itu bersumber pada keserakahan manusia.
Ngeri saja jika menyamakannya dengan situasi sekarang. Kisah suram yang biasanya bisa kututup sekehendak hati, kini benar-benar terjadi di kehidupan nyata dan tidak bisa dihentikan dengan menutup buku/komik apapun. Oh tidak! Bayangkan, di situasi genting, kita harus hidup terpisah dengan keluarga, berebut logistik bahkan saling bunuh agar bisa terus melanjutkan hidup.
Orang-orang yang tidak tahan dengan kekacauan semacam itu mungkin lebih memilih segera mengakhiri hidupnya. Bahkan, serangan panik bisa saja membuat orang menjadi gila dan semakin mengacaukan keadaan. Gambaran seperti itulah yang mungkin menjadi pemicu orang-orang terdampak Covid-19 bertindak irasional.
Tekanan dapat mengakibatkan stress sehingga mengganggu stabilitas mental yang bisa saja merubah seseorang berkarakter negatif. Keadaan seperti ini sudah dialami oleh warga negara China. Seperti yang dikabarkan oleh Republika.co.id pada Kamis, 13 Februari lalu. Sebuah survei oleh Chinese Psychology Society telah menemukan sejumlah 5.000 orang dievakuasi karena gangguan stres pasca trauma (PTSD). 21,5 persen diantaranya memiliki gejala PTSD. Berita buruk terkait Covid-19 mengakibatkan warga mengalami kecemasan secara berlebihan sampai memiliki gangguan somatik dan memiliki keinginan untuk bunuh diri.
Berungtunglah jika dirimu masih bisa mempertahankan rasionalitas sampai saat ini. Pertahankanlah!
Mental sehat menyelamatkan dunia

Jangan sampai kita semakin memperburuk keadaan seperti apa yang dilakukan orang-orang dalam kisah Zombie itu. Tetap berpikir positif menjadi hal utama yang perlu dijaga saat ini demi keselamatan kita dan orang-orang di sekitar kita.
Andai kata kesibukan kita terpaksa berhenti, maka jangan biarkan kegabutan menguasai kita. Menggunakan banyak waktu luang untuk bersedih, meratapi keadaan atau menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu berbuat apapun untuk ikut menyelamatkan dunia. Tidak! Jangan larut dalam keterpurukan seperti itu.
Beberapa hal di bawah ini kurasa cukup untuk membantu mengurangi depresi yang berlebihan:
Selektif dalam konsumsi berita, menutup sumber kecemasan baik portal berita maupun media sosial. Selain menyaring informasi dari hoax, kita juga perlu membatasi diri terhadap postingan tentang suatu hal yang justru bisa membuat kita merasa semakin tertekan.
Selalu menjaga kebersihan. Ingat, tetaplah rasional. Jangan berlebihan dalam belanja alat-alat kesehatan demi egoisme semata. Karena masih ada orang lain yang juga membutuhkannya.
Menjaga komunikasi dengan orang lain. Meskipun dalam keadaan social distancing, jangan sampai merasa kesepian. Saling berkirim kabar mungkin bisa membuatmu tidak merasa sendirian. Curhat dengan teman via gadged atau mengobrol langsung dengan anggota keluarga jika sedang di rumah sebagai pereda kepanikan.
Hindari merasa kelelahan. Istirahatlah yang cukup. Kita harus menjaga kesehatan mental agar imun tidak lemah.
Memperbaiki suasana hati, belajar mengontrol emosi, berolahraga ringan, dan mengolah potensi diri. Lakukan hal yang menyenangkan di kediamanmu untuk menghindari kebosanan, entah itu memasak, membaca, menulis, bermain musik, merawat tanaman atau hewan peliharaan, atau bahkan merancang pembuatan film yang selama ini kamu inginkan (mengkhayal dulu gapapa lah).
Konsumsi makanan sehat dan perbanyak minum air putih. Penuhi nutrisi tubuh dan perkuat sistem imun. 25 kg berat badan setara dengan 1 liter air. Berlaku kelipatannya. Meminum air putih hangat dapat mengelola stress, melegakan sistem syaraf dan masih banyak manfaat lainnya.
Mengatasi depresi dengan meditasi. Waktu yang ideal adalah 10-15 menit sebelum tidur. Kegiatan bisa dilakukan hanya duduk berdiam diri mengolah konsentrasi sambil mengatur nafas agar rileks. Meditasi bermanfaat bagi kesehatan fisik dan mental.
Di dunia ini, kurasa tidak ada yang ingin hidup dengan sia-sia. Cintailah dirimu. Kita harus tetap sehat jika ingin mengubah dunia.
#sebarkanhalbaik #IAINSurakarta #cintaisehatmu #Covid-19 #kesehatanmental

Komentar
Posting Komentar